Usob o
Terima kasih

Warisan Kepulauan Kei
Dua kisah besar dari Bumi Evav — pengabdian seorang putra Maluku Tenggara yang teguh menjaga kedaulatan Indonesia, dan kedaulatan adat Ratskap Manyeuw Rumadian yang menjaga tegaknya hukum leluhur.
Telusuri WarisanMengapa Warisan Ini Hidup
Di Kei, sejarah tidak disimpan di laci. Ia berjalan di pasir, berbicara dalam gong, dan menjaga garis pantai. Mari mengenal dua pilar yang membuat Evav tetap berdiri — satu dari Negara, satu dari Adat — sama-sama milik kita.
Jejak Patriot · I

Lahir 14 Okt 1928 dengan panggilan akrab “Kace”, Karel Sadsuitubun adalah putra Ohoi Rumadian, Maluku Tenggara, yang melewati hampir sepanjang hidupnya mengabdi menjaga merah-putih. Dari RMS Ambon, DI/TII Aceh–Sulsel, PRRI PERMESTA 1958, hingga TRIKORA 1961, jejaknya merangkai babak panjang sejarah kedaulatan Indonesia.
Ia bukan sekadar nama dalam arsip. Ia adalah wujud nyata bahwa putra terkecil dari kepulauan timur pun berdiri sejajar menjaga persatuan bangsa.
Tahun 1928 bukan sekadar angka. Di Ohoi Rumadian, sebuah nyawa lahir untuk kelak mengikat dirinya pada nasib satu bangsa yang baru bertunas. Panggilan “Kace” tumbuh di tengah adat Kei yang mengajarkan persaudaraan — nilai yang kelak ia bawa ke medan pengabdian yang jauh lebih luas dari kampung halamannya.
Latar belakangnya yang bersahaja justru menjadi akar teguh: bahwa cinta tanah air tidak ditentukan oleh tempat lahir, melainkan oleh kerelaan untuk membela yang satu.

Jejak Patriot · III
Karel Sadsuitubun mengawal persatuan Indonesia menghadapi pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) di Ambon, meneguhkan sikapnya membela Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dalam gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di Aceh dan Sulawesi Selatan, ia ikut menjaga stabilitas wilayah demi utuhnya kedaulatan republik.
Pada 1958, ia terlibat dalam penanganan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia / Perjuangan Semesta (PRRI PERMESTA), menjaga keutuhan bangsa di tengah krisis wilayah.
Melalui Trikora (1961), Karel Sadsuitubun ambil bagian dalam semangat pembebasan Irian Barat, memperluas pengabdiannya demi tanah air yang utuh.
Jejak Patriot · IV

Dalam peristiwa G30S/PKI pada 30 Sep 1965, Karel Sadsuitubun gugur saat menjalankan tugas negara. Ia berada dalam rombongan WAPERDAM II Dr. J. Leimena, pengabdian terakhir yang membawanya ke ujung nyawa demi merah-putih.
Tragedi itu tidak mengakhiri kisahnya. Ia ditetapkan sebagai Pahlawan Revolusi — nama yang abadi, bukan sekadar kenangan.
Jejak Patriot · V
Dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi atas pengabdian dan pengorbanannya menjaga kedaulatan Indonesia.
Menaungi pangkat Ajun Inspektur Polisi Dua (AIPDA) secara anumerta sebagai penghormatan tertinggi atas jasa pengabdiannya.
Menerima Bintang Republik Indonesia Kelas II, tanda jasa tertinggi negara bagi putra terbaik bangsa.
Jejak Patriot · VI

Bandara di Langgur yang memakai namanya — pintu udara menuju Tanah Evav.

Kapal perang Republik Indonesia yang membawa namanya berlayar menjaga nusantara.

Nama jalan di berbagai daerah yang mencatat jejak patriotisme ke dalam keseharian warga.

Potret resmi sang putra Evav yang menghiasi ruang kenegaraan sebagai pengingat akan jasa pengabdiannya.

Monumen yang berdiri mengenang semangat dan pengorbanannya bagi merah-putih.
“Mari mengenang dan merawat semangat patriotisme yang ia wariskan. Sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan kompas bagi masa depan bangsa yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945.”
Jejak Kedaulatan · I

Pada era 1870-an, Ratskap Manyeuw Rumadian berdiri sebagai pilar kedaulatan adat di tanah Evav. Ia menjaga tegaknya hukum leluhur Larvul Ngabal, mengikat perjanjian dan memelihara kedamaian antarkampung dengan semangat persaudaraan Kei.
Di Ohoi Tel Nangan, jejak kedaulatan itu masih berdetak — dalam gong, dalam marga, dan dalam tujuh kampung yang bersumpah di bawah naungan yang sama.
Jejak Kedaulatan · II

“Rat Manyeuw” adalah elang kecil — tidak menonjolkan diri, namun memandang jauh dan menjaga tanahnya dengan ketenangan. Begitilah seorang pemimpin adat Kei sejati memimpin: rendah hati, tajam pandang, dan berpijak pada yang satu.
Kepemimpinan bukan tentang berdiri di atas yang lain, melainkan tentang membentangkan sayap pelindung bagi seluruh kampung yang dipercayakan kepadanya.
Jejak Kedaulatan · II-b


Jejak Kedaulatan · III

Simbol legitimasi tertinggi Ratskap Manyeuw Rumadian — suara gong yang mengikat keabsahan kedaulatan adat di tanah Evav.
Pata Limi
Pata Limi merupakan sendi perjanjian adat yang mengikat lima pihak dalam kesepakatan Larvul Ngabal — landasan di mana Ratskap Manyeuw Rumadian meneguhkan keabsahan hukumnya.
Rat Yarbedang & Rat Amardai
Dua tokoh pengikat dalam sejarah Ratskap Manyeuw Rumadian yang bersama gong Dada Wadlau menjaga keutuhan serta kelestarian kedaulatan adat masyarakat Kei.
Jejak Kedaulatan · IV
Kedaulatan Ratskap Manyeuw Rumadian memayungi tujuh kampung adat yang bersumpah dalam naungan hukum leluhur yang sama.
Jejak Kedaulatan · V
Pemimpin Ratskap Manyeuw Rumadian dari Marga Watratan yang mengawal pelaksanaan hukum adat Larvul Ngabal menjaga tegaknya kedaulatan adat di tanah Evav.
Meneruskan garis suksesi Marga Watratan pada 1994, membawa tanggung jawab moral menjaga pengayoman, hukum adat, dan pelestarian warisan leluhur Kei.
Jejak Kedaulatan · V-b
Napak tilas pengangkatan Raja mengajak kita menelusuri jejak penobatan Rat (Raja) adat Kerajaan Manyeuw yang berakar pada Marga Watratan. Upacara adat ini dihelat di Hutan Rumadian, pusaka suci tempat para leluhur bersumpah meneguhkan kedaulatan Ratskap Manyeuw Rumadian di tanah Evav.


Jejak Kedaulatan · VI
Menjaga dan melindungi seluruh warga dalam naungan Ratskap Manyeuw Rumadian, agar setiap orang berada dalam pangkuan adat yang menyejukkan.
Menegakkan Larvul Ngabal sebagai pangkal hukum leluhur, mengikat perjanjian dan sengketa dalam kesetaraan yang dihormati bersama.
Merawat gong Dada Wadlau, Pata Limi, dan memori tujuh kampung adat agar warisan identitas bangsa tetap hidup dari generasi ke generasi.
“Menelusuri sejarah Ratskap Manyeuw Rumadian adalah memahami detak jantung budaya masyarakat Kei. Mari bersama-sama menghormati dan melestarikan warisan identitas bangsa yang terus hidup hingga hari ini.”

Penghormatan
Menelusuri sejarah Ratskap Manyeuw Rumadian adalah memahami detak jantung budaya masyarakat Kei. Bersama pengabdian Karel Sadsuitubun yang menjaga merah-putih, keduanya mengingatkan: warisan Evav bukan cerita selesai — ia masih hidup, masih berdetak, masih menunggu kita rawat.

Sambutan Keluarga Evav
Di Kei, kita semua bersaudara — termasuk dengan leluhur yang menulis sejarah ini. Setelah menelusuri jejaknya, mari bawa pulang bukan sekadar cerita, tapi juga rasa meja Kei yang hangat. Sampai jumpa di Tanah Evav.
Salam penutup
Ain Ni Ain